| Pelayanan Publik Kota Denpasar |
| Bergema Sampai ke Negara Thailand |
| Denpasar (Bali Post) -Keberhasilan Pemkot Denpasar meraih poin tertinggi di Indonesia hasil survei KPK dalam pelayanan publik terdengar sampai ke negeri Gajah Putih. Terbukti hadirnya Wali Kota Pattaya Thailand, Kunplome Itthiphol, bersama 32 rombongan, termasuk Ketua DPRD Kota Pattaya Thailand Chaiswangvong Tavich yang diterima langsung Wali Kota I.B. Rai Dharmawijaya Mantra didampingi Sekretaris Daerah Kota Denpasar A.A. Ngurah Rai Iswara di ruang pertemuan Praja Utama, Senin (5/4) kemarin. Setelah mendengarkan informasi langsung dari Wali Kota Rai Mantra tentang kondisi Denpasar yang hampir memiliki kesamaan dengan Kota Pattaya, rombongan yang disertai para konsultan setempat juga meninjau pelaksanaan safe community, RPKD 91.45 FM dan Dinas Perizinan. Bahkan, dalam kunjungannya di RPKD 91.45 FM, Wali Kota Kunplome Itthiphol berkesempatan melakukan talk show live. Dalam wawancaranya di RPKD 91.45 FM, Wali Kota Pattaya yang baru berusia 37 tahun ini terkesan dengan apa yang dilakukan Pemkot Denpasar, terutama kecerdasan Wali Kota Denpasar memadukan sistem pelayanan publik dengan teknologi. ''Perpaduan antara pelayanan publik dengan teknologi langkah efektif dalam memberikan pelayanan,'' ujar Kunplome Itthiphol. Selain itu, Kunplome Itthiphol mengaku kagum atas kecepatan Pemkot dalam menangani kebencanaan, dari informasi masuk melalui call center termasuk diinformasikan langsung melalui RPKD 91.45 FM. Selebihnya Wali Kota Pattaya mengakui pihaknya saat ini belum punya radio traffic, mudah-mudahan ke depan radio yang dimiliki Pemkot ini bisa mengudara di Kota Pattaya. Dia juga berharap ke depan akan melakukan kerja sama di beberapa bidang dengan Pemkot Denpasar. Saat mengunjungi Dinas Perizinan, Wali Kota Kunplome Itthiphol mengaku bangga dan salut terhadap sistem pelayanan one stop service yang diterapkan Pemkot. Sistem pelayanan seperti yang dilakukan Pemkot Denpasar sudah mampu memberikan kepuasan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Pemkot Denpasar dalam meraih nilai tertinggi 7,48 dalam survei Integritas Pelayanan Publik yang dilakukan oleh KPK pada akhir tahun 2009 seperti apa yang disampaikan Wali Kota Rai Mantra. Wali Kota Pattaya mengakui sistem pelayanan one stop service belum diterapkan di wilayahnya. Untuk itu kunjungannya kali ini juga akan menggali informasi tentang sistem pelayanan one stop service. Sementara itu, Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan bahwa apa yang dilakukan ini semata-mata untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. ''Dengan motto Sewaka Dharma, kami beserta seluruh aparat di jajaran Pemerintah Kota Denpasar senantiasa memberikan yang terbaik kepada masyarakat, karena memberikan pelayanan adalah merupakan kewajiban pemerintah,'' katanya. (kmb12) |
Peta Banjar Tiapi
Selasa, 06 April 2010
Bergema Sampai ke Negara Thailand
Tumpukan Sampah di Penataran Agung Pura Besakih
Tumpukan Sampah di Penataran Agung Pura Besakih
Minggu, 4 April 2010 kami dan keluarga tangkil ke Pura Batur dan Pura Besakih. Yang menarik perhatian kami adalah adanya perbedaan pengelolaan sampah bekas canang maupun bunga yang ditinggalkan pemedek sehabis sembahyang di ke dua pura tersebut. Di Pura Batur, panitia membersihkan secara periodik sampah bekas canang/bunga yang ditinggal pemedek sehabis sembahyang. Para pemedek yang baru datang harus rela menunggu sejenak di Madya Mandala sebelum masuk ke Utama Mandala untuk sembahyang, karena panitia melakukan pembersihan bekas canang/bunga. Setelah selesai dilakukan pembersihan para pemedek dipersilakan masuk. Dengan demikian lingkungan Utama Madala tempat kita sembahyang menjadi bersih.
Sebaliknya di Pura Penataran Agung Pura Besakih tidak dilakukan seperti halnya di Pura Batur. Tumpukan sampah di Penataran Agung Pura Besakih sangat memprihatinkan. Para pemedek bersembahyang di atas tumpukan sampah yang baunya cukup menyengat. Kondisi ini sangat mengganggu konsentrasi pada saat sembahyang dan kurang memberikan pendidikan yang baik tentang kebersihan kepada generasi penerus kita.
Sekadar saran/usul, ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam pengelolaan sampah bekas canang/bunga:
1. Pemedek diminta mengambil canang/bunga sehabis sembahyang dan diletakkan pada tong sampah yang telah disiapkan panitia. Pengelolaan sampah seperti ini telah dilakukan di Pura Senduro Lumajang Jatim dan Pura-pura besar di Jawa, bahkan di beberapa Padharman di Pura Besakih sendiri. Dengan demikian pemedek ikut dididik bertanggung jawab dalam hal kebersihan pura dan lingkungannya.
2. Panitia membersihkan bekas canang/bunga yang ditinggalkan pemedek, seperti yang dilakukan di Pura Batur. Tetapi kasihan panitianya, sepertinya kebersihan itu tanggung jawab panitia semata, padahal pemedek juga seharusnya ikut dididik menjaga kebersihan.
3. Kombinasi poin 1 dan 2 di atas; pemedek tetap diminta untuk membersihkan bekas canang/bunga yang ditinggalkan sehabis sembahyang, dan bila dirasa kurang panitia ikut membersihkan sisa-sisa sampah tersebut dalam periode tertentu. Dengan demikian kita harapkan pemedek tidak saja menjaga kebersihan di dalam pura, tetapi juga diharapkan mempunyai dampak positif tidak membuang sampah di sembarang tempat. Termasuk tidak membuang sampah dari dalam mobil sepanjang perjalanan suci menuju pura maupun sekembalinya dari pura.
Minggu, 4 April 2010 kami dan keluarga tangkil ke Pura Batur dan Pura Besakih. Yang menarik perhatian kami adalah adanya perbedaan pengelolaan sampah bekas canang maupun bunga yang ditinggalkan pemedek sehabis sembahyang di ke dua pura tersebut. Di Pura Batur, panitia membersihkan secara periodik sampah bekas canang/bunga yang ditinggal pemedek sehabis sembahyang. Para pemedek yang baru datang harus rela menunggu sejenak di Madya Mandala sebelum masuk ke Utama Mandala untuk sembahyang, karena panitia melakukan pembersihan bekas canang/bunga. Setelah selesai dilakukan pembersihan para pemedek dipersilakan masuk. Dengan demikian lingkungan Utama Madala tempat kita sembahyang menjadi bersih.
Sebaliknya di Pura Penataran Agung Pura Besakih tidak dilakukan seperti halnya di Pura Batur. Tumpukan sampah di Penataran Agung Pura Besakih sangat memprihatinkan. Para pemedek bersembahyang di atas tumpukan sampah yang baunya cukup menyengat. Kondisi ini sangat mengganggu konsentrasi pada saat sembahyang dan kurang memberikan pendidikan yang baik tentang kebersihan kepada generasi penerus kita.
Sekadar saran/usul, ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam pengelolaan sampah bekas canang/bunga:
1. Pemedek diminta mengambil canang/bunga sehabis sembahyang dan diletakkan pada tong sampah yang telah disiapkan panitia. Pengelolaan sampah seperti ini telah dilakukan di Pura Senduro Lumajang Jatim dan Pura-pura besar di Jawa, bahkan di beberapa Padharman di Pura Besakih sendiri. Dengan demikian pemedek ikut dididik bertanggung jawab dalam hal kebersihan pura dan lingkungannya.
2. Panitia membersihkan bekas canang/bunga yang ditinggalkan pemedek, seperti yang dilakukan di Pura Batur. Tetapi kasihan panitianya, sepertinya kebersihan itu tanggung jawab panitia semata, padahal pemedek juga seharusnya ikut dididik menjaga kebersihan.
3. Kombinasi poin 1 dan 2 di atas; pemedek tetap diminta untuk membersihkan bekas canang/bunga yang ditinggalkan sehabis sembahyang, dan bila dirasa kurang panitia ikut membersihkan sisa-sisa sampah tersebut dalam periode tertentu. Dengan demikian kita harapkan pemedek tidak saja menjaga kebersihan di dalam pura, tetapi juga diharapkan mempunyai dampak positif tidak membuang sampah di sembarang tempat. Termasuk tidak membuang sampah dari dalam mobil sepanjang perjalanan suci menuju pura maupun sekembalinya dari pura.
Langganan:
Postingan (Atom)